Permasalahan dalam Proses Belajar Mengajar


 

Pendahuluan

Pada dewasa ini banyak masalah yang timbul lebih cepat. Sebelum kita dapat mengidentifikasi masalah itu, yang pasti tampak cara untuk memperoleh kejelasan dan hal ini tidak dapat dipisahkan dengan masalah-masalah itu. Semakin lama masalah itu menjadi sangat komplek. Juga dalam masalah-masalah itu selalu terjadi perubahan terutama masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.

Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar dan mengajar harus diupayakan secara maksimal agar mutu pendidikan meningkat, hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman.

Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum.

Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.

Definisi Masalah Belajar

Banyak ahli mengemukakan pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1965) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain. Ingin atau perlu dihilangkan. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Anita E., Woo Folk (1995) mengemukakan belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa “Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Dari definisi masalah dan belajar, maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut:

“Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.

Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Aktivitas belajar dialami oleh siswa sebagai suatu proses yaitu proses belajar sesuatu. Aktivitas belajar tersebut juga dapat diketahui oleh guru dari perlakukan siswa terhadap bahan belajar.

Proses belajar merupakan hal yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah. Masalah intern belajar juga siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak belajar dengan baik. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh para proses belajar siswa.

Masalah-Masalah Mengajar

Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator. Oleh karena itu, pengajaran minimal harus dipandang sebagai suatu proses sistematis dalam merencanakan, mendesain, mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan pembelajaran secara efektif dalam jangka waktu yang layak.

Seorang desainer yang terampil, pada kenyataannya memiliki perencanaan yang baik. Suatu strategi maupun seperangkat prinsip-prinsip dan teknik-teknik yang digunakan bila diperlukan. Konsekuensinya desainer tidak akan memperbaiki proses desain sistem begitu saja, seolah-olah hanya terdapat satu pendekatan satu saja untuk hal tersebut. Walaupun demikian kemampuan mendesain itu hanya dimiliki setelah seorang mempunyai pengalaman di dalam mendesain bermacam-macam sistem belajar.

Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam: (1) Berorientasi kepada tujuan pelajaran. (2) Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa. (3) Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus. (4) Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.

Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.

Guru dalam tugasnya untuk merencanakan, melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut: (1) Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas, (2) Prosedur evaluasi tidak jelas (3) Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif. (3) Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam. (5) Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.  (6) Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.

Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.

Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:

a.      Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.

b.      Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.

c.       Kurang terampil dalam menggunakan metode

d.     Sangat terikat pada satu metode saja

e.      Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.

 

Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:

a.      Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.

b.      Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.

c.       Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.

d.     Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah

e.      Keadaan sarana yang kurang

f.        Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.

Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.

Daftar Pustaka

http://samadaranta.wordpress.com/2010/12/28/masalah-masalah_dalam_belajar.

Dimyati, dkk., Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003, Cet. Keempat

Abu Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997

Hilda Karli, dkk., Implementasi KTSP dalam Model-Model Pembelajaran, Jakarta: Generasi Info Media, 2007

Roestiyah, Masalah Pengajaran sebagai Suatu Sistem, Jakarta: PT. Bina Aksara, 1986

 

Komentar

Postingan Populer