IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PAIKEM
Penjabaran
model PAIKEM meliputi (1) pembelajaran aktif, (2) pembelajaran
inovatif, (3) pembelajaran kreatif, (4) pembelajaran efektif, dan pembelajaran yang menyenangkan.
A.
Penjabaran
Model PAIKEM
a.
Pembelajaran
Aktif
Secara
harfiah active artinya: ”in the habit of doing things,
energetic” (Hornby dalam Muhibin dan Rahayu 2009: 13),
artinya terbiasa berbuat segala hal dengan
menggunakan segala daya. Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua
siswa dan guru secara fisik, mental, emosional,
bahkan moral dan spiritual. Guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang
dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif
siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri.
Dengan
demikian, siswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Menurut
Taslimuharrom dalam Muhibin dan Rahayu (2009: 13) sebuah proses belajar dikatakan
aktif (active learning) apabila
mengandung :
1)
Keterlekatan pada tugas (Commitment), dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya
bermanfaat bagi siswa (meaningful),
sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant),
dan bersifat/memiliki keterkaitan dengan kepentingan
pribadi (personal);
2)
Tanggung jawab (Responsibility).
dalam hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan
wewenang kepada siswa untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru lebih banyak
mendengar dan menghormati ide-ide siswa, serta memberikan
pilihan dan peluang kepada siswa untuk mengambil keputusan sendiri.
3)
Motivasi (Motivation),
proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi
intrinsic
siswa.
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal
dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Dalam perspektif
psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi
intrinsik (bukan ekstrinsik) karena lebih murni dan langgeng serta tidak
bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi
dan memiliki pengetahuan dan keterampilan
untuk masa depan, umpamanya, memberi pengaruh lebih kuat dan relatif lebih langgeng
dibandingkan dengan dorongan hadiah atau dorongan
keharusan dari orangtua dan guru. Motivasi belajar siswa akan meningkat apabila ditunjang oleh
pendekatan yang lebih berpusat pada siswa (student centered learning).
Guru mendorong siswa untuk aktif mencari, menemukan
dan memecahkan masalahnya sendiri. Ia tidak hanya menyuapi siswa, juga tidak seperti orang
yang menuangkan air ke dalam ember.
b.
Pembelajaran
Inovatif
Kata
“inovatif” berasal dari kata sifat bahasa Inggris inovative.
Kata ini berakar dari kata kerja to innovate yang
mempunyai arti menemukan (sesuatu yang
baru). Oleh karena itu, pembelajaran inovatif dapat diartikan sebagai
pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru, tidak seperti yang
biasanya dilakukan, dan bertujuan untuk menfasilitasi siswa dalam membangun
pengetahuan sendiri dalam rangka proses perubahan perilaku ke arah yang lebih
baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa (Slameto 2011: 2).
- PembelajaranKreatif
Kreatif
(creative)
berarti menggunakan hasil ciptaan/kreasi baru atau yang berbeda dengan
sebelumnya.Pembelajaran yang kreatif mengandung makna tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan
kurikulum. Kurikulum memang merupakan
dokumen dan rencana baku, namun tetap perlu dikritisi dan dikembangkan secara kreatif. Amri
dan Ahmadi (2010: 16) menyatakan bahwa pembelajaran kreatif dimaksudkan agar
guru menciptakankegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai
tingkat kemampuan siswa dan tipe serta gaya belajar siswa. Dengan demikian, ada
kreativitas pengembangan kompetensi dan
kreativitas dalam pelaksanaanpembelajaran dikelas termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber bahan dan
sarana untuk belajar. Pembelajaran kreatif juga dimaksudkan agar guru
menciptakankegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat
kemampuan siswa dan tipe serta gaya belajar siswa.
- Pembelajaran
Efektif
Pembelajaran
dapat dikatakan efektif (effective/
berhasil guna) jika mencapai sasaran atau minimal
mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Serta
banyak hal yang yang “didapat” oleh siswa, bahkan gurupun pada setiap kegiatan pembelajaran mendapatkan
“pengalaman baru” sebagai hasil interaksi dua
arah dengan siswanya. Agar kita tahu apakah pembelajaran di kelas kita efektif
atau tidak, setiap akhir pembelajaran perlu kita lakukan evaluasi, evaluasi
yang dimaksudkan disini bukan sekedar tes untuk siswa, tetapi sejenis
“perenungan” yang dilakukan oleh guru dan siswa (refleksi) dan didukung oleh
data catatan guru, salah satunya mungkin hasil latihan/sejenis tes lisan, tulis
maupun perilaku.
Kemudian barulah kita simpulkan sudahkah tujuan yang kita tetapkan telah tercapai, seberapa besar pencapaiannya, apa kekurangan dan kelebihannya serta apa tindaklanjut dan rencana kita berikutnya, yang berupa program perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.
e.
Pembelajaran yang Menyenangkan
Pembelajaran
yang menyenangkan harus dimaknai secara luas tidak sekedar menyenangkan, tetapi
pembelajaran juga harus dapat “dinikmati” oleh pembelajarnya. Pembelajaran
dapat dinikmati jika pembelajaran tersebut “mengasyikkan”. Mengasyikkan tidak
sekedar menyenangkan tetapi ada unsur ketekunan, inner
motivation, setelah mengetahui sesuatu hal selalu ingin tahu lebih lanjut,
dan mempunyai ketahanan belajar lebih lanjut. Belajar itu harus menyenangkan, mengasyikkan,
menguatkan dan mencerdaskan. Selain itu siswa harus
dilatih olah pikir, olah hati, olah rasa dan olah raga (Slameto 2011:2).
B.
Implementasi
Model PAIKEM dalam Proses Pembelajaran
Penerapan
pembelajaran aktif inovatif kreatif efektif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran harus dipraktikkan
dengan benar. Secara garis besar, penerapan
PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut (Amri dan Ahmadi 2010:
a.
Siswa terlibat dalam berbagai
kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
b.
Guru menggunakan berbagai alat
bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat,termasuk menggunakan
lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik,
menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
c.
Guru mengatur kelas dengan memajang
buku-buku dan bahan belajar yang lebih
menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
d.
Guru menerapkan cara mengajar yang
lebih kooperatif dan interaktif, termasuk
cara belajar kelompok.
e.
Guru mendorong siswa untuk
menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan
gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Komentar
Posting Komentar